Rasa Aman yang Harus Diusahakan

Entah sejak kapan dunia mulai mengubah diri
Keamanan bukan lagi hak lahir, melainkan sebuah nilai
yang harus dipelajari, diuji, dan disiasati. 
kepada mereka yang harus patuh pada barisan instruksi.
Dan aturan itu ditulis dengan tinta yang tertuju pada suatu diri.

Tidak untuk pulang larut. Tidak untuk berpakaian begitu. Tidak untuk terlalu ramah, tapi tidak pula terlalu dingin. Tidak untuk sendirian berjalan di bawah gelapnya langit.

Ia menghafal naskah itu bahkan sebelum ia mengerti maknanya.
Membawanya di dalam tubuh, seakan menggenggam kunci rumah.
 Selalu dalam jangkauan, selalu berjaga-jaga.
Namun, tak ada yang bertanya mengapa ia harus membawa beban itu?
Tak ada yang bertanya mengapa rasa aman adalah sebuah perhitungan rumit?
Tak ada yang bertanya mengapa rasa aman adalah hal yang harus diusahakan?

Sebelum ia melangkah keluar, sebelum memasuki ruangan,
sebelum ia sekadar berani “ada” di dunia yang katanya menyambutnya.
Semua hadir seakan-akan perlahan menyempitkan ruang geraknya.
Sebab ancaman tidak selalu berupa lorong  gelap gulita.
Terkadang mereka duduk manis di ruang terang benderang.
Mereka bersembunyi di balik tawa dalam ruang maya.
Mereka mengalir dalam nama yang dilemparkan ke sana kemari,
oleh mereka yang lupa bahwa ia bukanlah milik yang boleh diperbincangkan.
Itulah bagian yang tak pernah menjadi perbincangan utama.
Kehancuran norma yang pelan. Seribu momen kecil di mana ia dikerdilkan,
dan tak ada yang berkedip, karena semua sudah dianggap biasa.
Hingga biasa lupa, apa yang sebenarnya ia gantikan.

Ia seharusnya tak perlu membeli rasa aman ini.
Bukan dengan apa yang dikenakannya. Bukan dengan diamnya.
Bukan dengan betapa hati-hatinya ia melangkah
di ruang-ruang yang bahkan tidak dirancang untuk keselamatannya.
Keamanan bukanlah sebuah hadiah.
Melainkan apa yang seharusnya ia miliki tanpa syarat apalagi akibat.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *