Fase

Aku meninggal. Aku kira selanjutnya akan ada alam barzah di mana muncul malaikat yang bertanya siapa Tuhanku? 

Alih-alih demikian, aku malah terdampar di pabrik es krim.

Aku berjalan menyusur pabrik ini. Aroma manis stroberi dan vanila yang lengket menerjang indra penciumanku, telingaku menangkap mesin-mesin raksasa yang mendengung pelan. Megah tapi terasa kosong.

Di ujung lorong, aku melihat seorang pria bertubuh tinggi besar, berdiri tegap, lengkap dengan seragamnya. Entah apa alasannya, dia mendorongku dengan sengaja hingga aku terhuyung masuk ke sebuah ruangan . Ruangan ini luas dan ramai, sangat ramai hingga lebih pantas disebut dunia daripada sebuah ruangan.

Aneh. 

Rasanya otakku seperti mengenal seluk beluk dunia ini. Bukan sesuatu yang damai tentunya.

Di sana aku bergabung dalam sebuah kelompok. Aturan main mereka cukup “sederhana”. Cukup saling bunuh, terserah mau pakai cara apa.

Mengerikan.

Aku bertemu beberapa teman kelompokku di dunia ini. Bukan pertemuan yang lama apalagi spesial, karena semuanya mati menyisakan aku dan satu orang, El. Kami bertarung melawan seseorang dengan kekuatan besar yang mampu membuat siapa saja gemetar. Bisa dibilang dia perwujudan malaikat maut, atau mungkin memang dia?

“El, bagaimana ini? sisa kita berdua.”

“Aku punya rencana,” El menatapku. 

“Kau pura-pura mati, lalu kau langsung kabur. Biar kuselesaikan ini sendirian. Setelah selesai, aku akan menemuimu di hutan. Oke?”

Aku mengangguk ragu.

Memang sih, aku cupu dalam hal semacam ini. Entah mukjizat apa yang membuat aku masih bisa hidup sampai sekarang.

Apa boleh buat, kuturuti saja rencananya. Toh, aku juga takut mati.

Aku bersembunyi di antara pohon-pohon besar dengan aroma tanah basah yang khas. Di sini sepi, hanya ada serangga-serangga kecil yang menumpang lewat. Aku terdiam dan merenungi semua kejadian yang telah aku lalui.

Apa yang membuatku sampai di sini? 

Aku berpikir, apa aku sebaiknya mati saja tadi? Mungkin saja dunia ini hanya perbatasan antara hidup dan matiku, seperti serial Jepang itu. Apa pun itu, ini mengerikan. 

Bagaimana keadaan El sekarang, ya?

DOR! 

Dentuman keras yang memekikkan telinga membuat rasa sakit langsung menjalar ke seluruh tubuhku.

Saat pandanganku perlahan menggelap, tubuhku ditarik paksa oleh gravitasi yang tidak kasat mata. Sebutir peluru bersarang di kepalaku, menghilangkan kesadaran dan nyawaku.

Ah! Akhirnya mati juga.

Mungkin yang kali ini aku bisa langsung bertemu malaikat yang bertanya siapa Tuhanku.

Sensasi dingin yang familiar menyapa kulitku. Aku tersentak hingga terbangun.

Paru-paruku menghirup udara yang tidak lagi berbau tanah basah, melainkan aroma manis yang aku kenal. 

Vanila dan stroberi. 

Sial.

“Sudah bangun?”

Suara itu datar. Aku menoleh ke arahnya. 

Pria berseragam lengkap itu berdiri di sana. Dia tidak tampak terkejut melihatku hidup kembali. Baginya, mungkin aku hanya salah satu es krim yang gagal melewati kontrol kualitas dan harus dibuat ulang.

“Kenapa aku di sini lagi?” Tanyaku dengan suara serak. “Aku sudah mati di hutan tadi. Harusnya ini selesai!”

“Selama jiwamu masih punya rasa takut, kau adalah rasa yang paling sempurna untuk es krim kami.”

Dia kembali mendorong pundakku dengan kasar menuju pintu yang sama.

“Bagaimana dengan El?”

“El? Oh, keberaniannya memuakkan. Kami membuangnya bersama produk-produk yang gagal. Masuk dan carilah El baru, atau..

kau yang menjadi El.”

Apa-apaan? Dunia macam apa ini?

Dengan satu dorongan, aku kembali masuk ke ruangan yang sama. 

Cerita yang sama kembali dimulai. Entahlah, doakan saja.

Ditulis oleh Nazhwa Tristandila Mirakhi

Diedit oleh Diandra Wafiyatunnisa

Didesain oleh Malika Afza Fathiya Rizal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *