Namanya Merlyn, gadis rapuh yang senang bermimpi.
Kehidupannya malang.
Miskin, ayahnya kasar, ibunya mati, dan tak ada yang mau menemani.
Tapi, memang itu salahnya?
Merlyn senang bermimpi memiliki keluarga yang utuh.
Merlyn senang bermimpi mendapatkan kasih sayang dari banyak orang.
Merlyn senang bermimpi tentang kehidupan yang berpihak padanya.
…
Merlyn keluar dari rumah ketika ayahnya tertidur setelah mengeluarkan seratus persen tenaga saat memukulinya. Ia bersyukur ayahnya tertidur. Semoga tidurnya panjang sampai waktu yang lama sekali agar Merlyn memiliki waktu menyembuhkan luka lama sebelum menerima luka baru.
Ia pergi dengan pipinya yang lebam, berjalan keluar dari desa. Tetangganya tak ada yang menghampirinya, membiarkannya pergi bermain dengan burung dan kambing. Ya, setidaknya Merlyn berinteraksi dengan makhluk hidup lain.
Merlyn tidak menangis karena ia tidak mengerti. Ia hanya mengetahui kalau ini adalah hal yang biasa baginya.
Merlyn pergi ke dekat sungai untuk minum bersama teman-temannya.
“Aku rindu Ibu… Apa kalian memiliki ibu juga?”
Mbeekk.. Krr..
“Apa menjadi hewan menyenangkan?”
Jawaban mereka masih sama. Tentu saja akan selalu terdengar sama.
Si Burung terbang di atas kepala Merlyn dan mematuknya beberapa kali hingga membuat Merlyn menoleh ke arah lain di seberang sungai. Ia melihat sesuatu yang berkilau.
“Apa itu? Aku tidak pernah melihatnya.”
Merlyn menyeberangi sungai itu, menghampiri lahan yang luas. Ada sebuah pohon apel besar nan rindang dengan buahnya yang merah dan matang. Seorang pria bersandar di bawahnya.
“Halo, Nak,” sapa pria itu.
“Halo. Apakah Paman pemilik pohon ini?”
“Betul. Kau mau satu?” Ia menyodorkan sebuah apel yang diambilnya.
“Boleh?”
“Tentu, gadis manis,” ia terkekeh.
“Apel ini bisa mewujudkan satu keinginanmu, loh.”
“Eh?”
Pria itu tersenyum. Ada cahaya lembut yang memancar dari wajahnya. Seketika Merlyn merasa hangat untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
“Makanlah dan ucapkan keinginanmu dalam hati.”
…
“Merlyn!”
Merlyn menoleh ke arah suara tersebut.
Ibunya memanggil dari meja makan dengan banyak makanan lezat dan harum. Di sisi ibunya, ada sang ayah yang menunggu sambil tersenyum. Suatu hal yang tidak pernah terjadi dalam hidupnya. Merlyn menghampiri meja makan dengan riang.
“Ibu! Benarkah ini? Ibu kembali dan memasak?”
“Haha, apa maksudmu, Gadis Kecilku? Ibu kan selalu memasak makanan enak.”
Merlyn menyurukkan kepalanya seraya ibu menggendongnya.
“Aku rindu sekali dengan Ibu!”
Merlyn menoleh ke arah laki-laki yang selalu memukulinya.
“Ayah..” kata Merlyn lirih. Ia masih tidak percaya. Terdengar masih ada ada rasa takut dalam suaranya.
“Ada apa sayang?” Suara menggelegar yang biasa ia dengar kini terasa lembut di telinga. “Ayo kita segera makan selagi hangat, ya?” katanya sambil mengelus kepala Merlyn dan tersenyum hangat.
Tok! Tok! Tok!
“Selamat siang, Nyonya Gerold! Apa Anda di dalam?”
Ibu pergi membuka pintu.
“Siang. Ada apa, Nyonya Dovie?”
“Aku membawakan sedikit hasil panen dari kebun kami untuk keluargamu. Tolong diterima, ya!”
“Oh! Betapa baiknya Anda. Terima kasih, Nyonya Dovie. Aku akan membalasnya lain kali.”
“Merlyn, ayo main di taman!” Suara mungil menyambar. Ternyata, anak Nyonya Dovie ikut ke rumah mereka.
“Eh.. kau mengajakku?”
“Iya, siapa lagi?”
“Hahaha!” Ibu tertawa lembut. “Merlyn makan siang dulu ya, Emma. Nanti ia akan menyusulmu. Oke?”
“Baik, Nyonya Gerold,” ucapnya sopan. “Aku tunggu di taman ya!”
Ada apa ini? Pipinya merona. Hatinya tidak pernah semeleleh ini. Apakah kali ini kehidupan berpihak padanya? Ini adalah hari terbaik yang pernah ada bagi Merlyn. Ia berharap semua harinya akan berjalan seperti ini. Hangat dan ramai.
Tapi takdir bisa apa? Merlyn hanyalah gadis yang senang bermimpi.
Baik sekali Tuhan kali ini, karena memberinya rasa yang sangat nyata di bunga kematiannya.
Tubuh kecil Merlyn ditemukan mengapung di sungai.
Penulis: Nazhwa Tristandila Mirakhi
Editor: Diandra Wafiyatunnisa
Desainer: Fahira Khairunisa