“Everything is Political” Tapi, Adakah Toleransi untuk Kewarasan Jiwaku? 

Hari-hari selalu bergerak dengan suara yang amat bising. Setiap pasang mata dipaksa untuk menyaksikan kebijakan yang timpang dan keadilan yang nyeleneh. Lewat layar gawai yang berkedip tiap detik, narasi “negara sedang tidak baik-baik saja” datang bertubi-tubi. Awalnya, mengonsumsi berita mengenai bobroknya kebijakan beserta pemangkunya tentu  semata-mata bertujuan untuk mengkritisi seadanya, namun hal itu berujung  menjadi rutinitas yang menguras habis energi waras. 

Dunia informasi hari ini rasanya seperti labirin yang tidak menyediakan pintu keluar. Di setiap sudutnya, publik disuguhi ketidakberesan sistem yang dampaknya merembet hingga ke urusan personal. Kesadaran bahwa everything is political kini menjelma menjadi sebuah teror emosional yang nyata. Kesadaran itu tidak lagi sebuah kalimat yang mendefinisikan kondisi negara sehari-hari, tetapi beban mental yang kerap menjajah hari-hari. 

Ketika segalanya adalah politik, maka tidak ada lagi ruang yang benar-benar bebas dari kecemasan. Harga rupiah  yang mencekik, hukum yang tebang pilih, hingga masa depan yang semakin buram, semuanya bermuara di satu tempat yaitu bobroknya tata kelola dari mereka yang di atas sana. 

Wajarkah jika pada akhirnya muncul reaksi berupa dorongan untuk selalu menyalahkan pemerintah di setiap barisan kekecewaan? 

Emosi manusia sudah terlalu dipaksa untuk terus-menerus mengantar dirinya ke tempat yang penuh makian. Hingga seribu janji menguap begitu saja menyisakan tangisan kecewa di dalamnya.  

Ada rasa miris yang mendalam saat melihat ketakutan demi ketakutan mulai merayap. Terutama ketika memikirkan bagaimana kebijakan-kebijakan krusial tersebut akan mencekik orang-orang yang hidup tanpa privilege. Beban empati ini menjadi bahan bakar yang meluapkan seribu makian pada kekecewaan. Satu hal yang dibutuhkan sangatlah sederhana, bukan sebuah sikap abai yang naif, melainkan sebuah ruang sunyi untuk sejenak berhenti memaki demi menyelamatkan sisa emosi yang hampir habis terbakar. 

“Semuanya itu pilihan,” katanya. 

Namun adakah yang memilih untuk perlahan mati dalam kecemasan politis ini? Adakah yang rela bertanggung jawab dalam rasa kecewa yang terhanyut emosi pada mereka yang di atas sana? Atau bahkan adakah yang memilih untuk hidup di era ricuhnya rezim dan kebobrokan mereka? 

Nyatanya, semua yang terhimpit sistem sering kali hanya bisa menerima tanpa membantah. Dibanding memilih, mereka lebih sering berada di takdir yang terlanjur datang dengan rasa pasrah bahwa semua sudah ada jalannya. Jika kedamaian pikiran bisa dipilih dengan mudah, tentu tidak akan ada jiwa yang sudi membiarkan emosinya dijajah oleh kecemasan politis setiap hari. Seseorang yang kewalahan akan memilih mati rasa, dan mereka yang kesulitan akan memilih lahir di tempat yang lebih adil. 

Namun, manusia tidak diciptakan setumpul itu. Rasa miris, takut, dan kewalahan yang menguras emosi saat ini nyatanya menyembunyikan penegasan: bahwa di tengah gempuran sistem yang bobrok, nurani belum sepenuhnya mati. Amarah itu ada karena masih ada cinta pada kemanusiaan. 

Mungkin, riuhnya tidak akan langsung mengubah kebijakan besok pagi. Namun, pahitnya dan rasa kecewa yang dikonsumsi hari ini, memaksa manusia perlahan belajar sesuatu yang lebih nyata. Pada awalnya, semua dipaksa untuk menyaksikan yang terburuk, kelak, ruang aman yang kecil atau solidaritas tumbuh diantara akar-akar emosi pada setiap jiwa yang terbakar. Satu individu dan individu lainnya, satu kekecewaan dan kekecewaan lainnya, disatukan dalam satu perjuangan yang tujuannya sama. Maknanya menjadi berkali-kali lipat lebih berharga. Tentu saja, nilai yang dituntut lebih mahal atas dasar jiwa-jiwa yang kecewa. 

Sebab, politik bisa saja mengacaukan tatanan negara, tetapi tidak ada izin untuk mereka merebut hak manusia dalam konteks merasa dan memiliki asa. Tempat untuk berhenti memaki itu tidak perlu menunggu kerelaan dari atas sana, tetapi harus diciptakan sendiri dari dalam kepala sebagai bentuk perlawanan paling sunyi untuk tetap menjaga kewarasan.

Ditulis oleh Naura Filzah Hanani

Diedit oleh Diandra Wafiyatunnisa

Didesain oleh Naraya Raissa Aqila

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *