Negara ini begitu mudah untuk dicintai. Mungkin karena sejak kecil ditanamkan keyakinan bahwa negeri ini memiliki segalanya. Kata demi kata menjanjikan bukti dalam bentuk laut luas membentang dari Sabang hingga Merauke, tanah subur sebagai penghasil pangan utama, hutan tropis sebagai rumah bagi ribuan spesies di luar sana, hingga keberagaman budaya yang menjadikan negara ini berbeda dari negara manapun. Mulai dari bangku sekolah, mereka berusaha meyakinkan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya. Janji demi janji terus bertambah, hingga dengan beraninya menjanjikan peluang Indonesia Emas 2045. Generasi muda dipandang sebagai roda perubahan. Potensi ekonomi terus menerus diproyeksikan tumbuh. Dengan segala keyakinan, sulit rasanya untuk tidak percaya bahwa masa depan negeri ini seharusnya begitu menjanjikan.
“We were good. We were really good.”
Namun, dengan maraknya segala optimisme itu, bolehkah setiap makhluk yang dijanjikan untuk bertanya: “Jika Indonesia benar-benar memiliki begitu banyak potensi, mengapa yang kita lihat justru sebaliknya?”
Mungkin, persoalannya tidak terletak pada apa yang dikaruniai terhadap negeri ini. Tidak pernah sekalipun negeri ini kekurangan sumber daya, orang-orang cerdas, hingga mimpi untuk menjadi bangsa yang lebih baik. Sayangnya, sesuatu yang seharusnya dibangun kembali menjadi sulit dan habis, yaitu kepercayaan. Kepercayaan bahwa setiap potensi yang dimiliki bangsa ini benar-benar akan digunakan untuk kepentingan bersama, bukan dipertukarkan demi keuntungan segelintir orang.
Maraknya kepercayaan yang hilang boleh jadi dimulai dari korupsi yang menindas rakyat akan hilangnya potensi bangsa ini. Sudah sangat jelas bahwa kerugian terbesar dari korupsi bukan hanya nominal yang tercatat dalam laporan hilang, melainkan dalam bentuk kesempatan yang telah hilang.
Setiap anggaran yang diselewengkan selalu menyisakan kemungkinan yang tak pernah menjadi kenyataan. Ada sekolah yang mungkin tidak pernah selesai dibangun. Ada pelayanan kesehatan yang mungkin tak pernah menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Ada infrastruktur yang tertunda, penelitian yang tidak pernah berkembang, dan mimpi-mimpi yang perlahan kehilangan ruangnya untuk tumbuh. Korupsi tidak hanya mengambil apa yang kita miliki hari ini, tetapi juga merampas apa yang seharusnya bisa kita miliki di masa depan.
Belakangan ini, berbagai kasus kembali mengingatkan bahwa persoalan ini tidak ada yang selesai. Mulai dari temuan aset bernilai fantastis oleh tokoh penting, hingga temuan emas puluhan kilo. Bahkan, Indonesia Emas pun belum sempat terwujud, atau mungkin didahulukan dengan emas 74 kilo tersebut? Ironisnya, yang paling mengejutkan bukan lagi besarnya nilai yang diberitakan, melainkan betapa cepat kita terbiasa mendengarnya. Seolah-olah korupsi telah berubah menjadi rutinitas yang hanya bertahan beberapa hari di linimasa sebelum akhirnya digantikan oleh kasus berikutnya.
Bisa jadi, di sinilah letak kehilangan yang sebenarnya. Bukan ketika uang negara berpindah tangan, melainkan ketika kita mulai kehilangan rasa terkejut. Ketika integritas menjadi sesuatu yang terasa langka, sementara keserakahan perlahan dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kekuasaan. Padahal, sebuah bangsa tidak pernah kehilangan masa depannya dalam satu malam. Ia kehilangannya sedikit demi sedikit, setiap kali kepentingan pribadi ditempatkan di atas kepentingan bersama.
“We were good. We were really good.”
Barangkali, tidak ada kalimat yang lebih menyedihkan daripada penyesalan atas potensi yang tak pernah diberi kesempatan. Bukan karena tidak mampu, melainkan karena ada sesuatu yang terus menghalanginya untuk menjadi apa yang seharusnya bisa ia capai.
Dan setiap kali melihat negeri ini, rasanya kalimat itu menemukan makna yang berbeda.
Indonesia tidak pernah kekurangan potensi. Hal yang berkali-kali dirampas dari adalah kemungkinannya.
Mungkin itulah mengapa mencintai negeri ini terasa begitu rumit. Kita tidak sedang mencintai negara yang miskin akan sumber daya atau kekurangan manusia-manusia hebat. Kita sedang mencintai sebuah negeri yang memiliki begitu banyak alasan untuk menjadi luar biasa, tetapi terlalu sering menyaksikan kemungkinan-kemungkinan itu dikorbankan oleh mereka yang memilih keserakahan di atas tanggung jawab.
Meski demikian, menyerah bukanlah pilihan. Sebab harapan selalu lahir dari keyakinan bahwa segala sesuatu masih bisa berubah—dan mungkin, bentuk cinta yang paling jujur kepada sebuah negeri bukanlah menutup mata atas kegagalannya, melainkan terus mengingatkan bahwa ia seharusnya bisa menjadi jauh lebih baik daripada hari ini.
Ditulis oleh Naura Filzah Hanani
Diedit oleh Alya Fitri Ramadhani
Didesain oleh Malika Afza Fathiya Rizal