Sudah satu tahun lebih Prabowo menjabat sebagai presiden Indonesia bersama Gibran—yang entah kemana. Selama itu pula, ia mondar-mandir ke mana-mana.
Tercatat sejak pertama kali menjabat, setidaknya Prabowo sudah lebih dari 50 kali melawat ke luar negeri, jumlah yang tak pernah terjadi pada era presiden-presiden sebelumnya. Tak ketinggalan, pidato-pidato selalu ia lontarkan saat kunjungan.
Namun, alih-alih melahirkan pidato yang bijaksana dan tertata gaya bicaranya, Prabowo kerap melontarkan pidato yang tak terstruktur dengan gaya komunikasi yang spontan. Selain kalimat “Hei, antek-antek asing!” yang selalu ia singgung, kalimat pidato-pidatonya sering kali mengundang multitafsir. Seperti pidato terbarunya dalam peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79 di Gelora Bung Karno yang menggunakan kata “bajingan” untuk menyentil partai politik.
“Semua partai banyak patriot dan semua partai banyak bajingannya juga.
Mari kita tilik juga ke bulan Juni lalu. Rabu (10/6/2026) tepatnya di Bandar Lampung dalam Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha (HIMPI), Prabowo kembali berpidato yang lagi-lagi menyinggung pihak asing. Kala itu, ia menyindir para pengusaha yang dianggap bekerja untuk orang lain, bukan untuk Indonesia.
“Kalau ada yang menghasut, memecah belah, yakinlah dia (pengusaha) bekerja untuk orang lain. Bukan untuk orang Indonesia, saudara-saudara. Yang nyinyir-nyinyir, nyenyenyenye,” ucapnya.
Rentetan diksi dan gaya bicara Prabowo yang konfrontatif seakan mencerminkan bahwa ia harus diakui sebagai orang yang paling berkuasa. Namun, ibarat cakap tak serupa dengan perbuatan, kata-kata konfrontatif ini berbalik dengan cerminan kuat yang ditunjukkan Prabowo.
Diksi agresif yang digunakan mencerminkan perilaku hipermaskulin, sebuah perilaku psikologis yang digunakan pria untuk melindungi identitas diri yang rapuh dengan menampilkan kejantanan secara ekstrem guna menghindari persepsi lemah atau kesan “feminin” (Welss, 2024).
Perilaku hipermaskulin ini merupakan manifestasi dari fragile masculinity. Lantas, apa itu fragile masculinity?
Menilik Pidato Si Wowo dan Fragile Masculinity di Dalamnya
Jika berbicara soal fragile masculinity, ia mengacu pada kecemasan yang dirasakan oleh pria yang percaya bahwa mereka tidak bisa memenuhi “standar budaya kejantanan” (DiMuccio & Knowles, 2020). Fragile masculinity menggambarkan kondisi di mana identitas maskulin seseorang tidak stabil, mudah terancam, dan merasa perlu dibuktikan serta divalidasi.
Akar dari fragile masculinity ini adalah precarious manhood, atau kejantanan yang rapuh. Berbeda dengan womanhood, manhood dipersepsikan sebagai status yang harus diraih dan dipertahankan, bukan sesuatu yang datang secara alami (Vandello & Bosson, 2008). Sehingga, saat status kejantanan itu terancam, respons utamanya adalah sikap agresi, dominasi, bahkan eksternalisasi yang menyalahkan pihak luar dibanding mengakui kesalahan atau kerentanan dirinya sendiri.
Pemimpin dengan kecenderungan fragile masculinity seringkali menganggap proses kritikan sebagai ancaman personal atau musuh baginya. Baginya, kritik hanya akan melemahkan posisi kejantanannya. Ironisnya, hal ini tercermin dari pidato Prabowo. Bogor, Sabtu (15/02/2025) saat ia menghadiri perayaan HUT ke-17 Partai Gerindra, ia berulang kali melontarkan kata “ndasmu” saat menanggapi kritikan soal pembentukan kabinet, makan bergizi gratis (MBG), dan kedekatannya dengan mantan presiden Joko Widodo.
“Kita (partai koalisi pemerintah) harus mau diawasi. Kita harus mau dikoreksi. Kita harus mau dikritik. Tetapi, kritiknya yang benar, jangan kritik berdasarkan dendam,” tutur Prabowo.
Namun, perkataan itu sangat kontradiktif dengan respons yang Prabowo berikan setelahnya. Seakan mengejek kritik yang diterima, Prabowo merespons kritik pertama—yakni soal MBG—dengan kata “ndasmu” yang dilengkapi mimik bibir sedikit maju, persis saat ia debat pilpres melawan Anies Baswedan dulu. Di sana, Prabowo membuat klaim MBG sudah menyasar ke 770.000 anak hingga pertengahan Februari. Ia berharap, di akhir Juli 2025 bisa mencapai enam juta orang.
“Tidak ada presiden yang punya tongkat Nabi Musa, negara kita sangat besar. Sudah kita mulai sekian ratus orang, masih ada yang komentar belum banyak. Kalau enggak ada wartawan saya bilang ndasmu,” ucapnya.
Ucapan “ndasmu” ini tak diucap hanya sekali saja. Merespons soal kritikan kabinet gemuk, Prabowo mengatakan, “Ada orang pintar, kabinet ini kabinet gemuk, terlalu besar… ndasmu,” ujarnya.
Respons yang sama saat ia menanggapi soal tuduhan cawe-cawe Jokowi di pemerintahannya. “Nanti saya dibilang dikendalikan Pak Jokowi, cawe-cawe… ndasmu.” jawabnya.
Padahal, kritik itu bukan bualan semata. Jika menyinggung soal kabinet gemuk, kabinet Prabowo yakni Kabinet Merah Putih sendiri memiliki 48 kementerian, 56 wakil menteri, dan 6 kepala badan. Jumlah yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan kabinet Joko Widodo yang hanya memiliki 34 kementerian. Sementara itu, menurut UU No. 39 Tahun 2008, jumlah kabinet ideal sendiri dibatasi maksimal 34 kementerian.
Soal kritikan Prabowo adalah cawe-cawe Jokowi, dugaan in mencuat lantaran Prabowo kerap kali menyambangi Jokowi sejak ia dilantik. Dilansir dari CNN, terhitung sudah tiga kali mereka bertemu sejak Prabowo dilantik hingga 2025 lalu. Pertemuan perdana mereka pada 3 November 2024 diawali dengan Prabowo sendiri yang menyambangi Jokowi di Solo, Jawa Tengah. Berlanjut di Desember 2024, mereka kembali bertemu di kediaman Prabowo di Jakarta.
Tak hanya sering bertemu, soal Prabowo adalah cawe-cawe Jokowi juga mencuat lantaran Prabowo kerap kali memuji Jokowi di acara-acara besar. Seperti yang ia lakukan saat Sidang Kabinet Paripurna di Mei 2025 lalu. Dilansir dari Tribunnews, Prabowo memuji Jokowi yang dinilai mampu menjaga inflasi Indonesia selama masa kepemimpinannya. Prabowo juga mengaku, pujian itu ia sampaikan dengan jujur, meski Gibran duduk di sebelahnya kala itu.
Si Gendut yang Egonya Rapuh: Fragile Masculinity dalam Politik
Lagi-lagi, semua respons Prabowo di atas menunjukkan bahwa ia sulit menerima kritik.
Jika kita kembali mengungkit fragile masculinity, ia lahir dari empat siklus yang akan selalu berulang. Pertama, adanya tuntutan budaya dan ekspektasi ketangguhan dan dominasi yang pria harus miliki. Kedua, jika ia tidak bisa memenuhi ekspektasi tersebut, maka ia gagal masuk ke standar yang tentu berpotensi ia akan diremehkan secara sosial. Berlanjut ke siklus ketiga, ia akan dihadapi krisis dalam dirinya sendiri, yang tentu meningkatkan rasa cemas dan terancam.
Jika memang ia sudah terpojok, respons terakhirnya adalah sikap agresi, dominasi, bahkan eksternalisasi, yakni menyalahkan pihak luar dibanding mengakui kesalahan atau kerentanan dirinya sendiri. Prabowo melakukan sikap eksternalisasi, dimana ia malah menyalahkan para pengusaha—yang katanya ia anggap bekerja untuk orang asing—di pidatonya saat Munas HIPMI. Pola eksternalisasi yang sama juga ia lakukan saat merespon tiga kritikan utama saat berpidato di acara HUT Gerindra ke-17, yang malah ia balas dengan kata “ndasmu” ke kritikan itu soal MBG, kabinet gemuk, dan cawe-cawe Jokowi.
Hal ini juga dipertegas oleh tanggapan peneliti dari Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (Puskapol UI), Teuku Harza Mauludi yang dikutip dari BBC. Harza mengamati, ada beberapa hal yang membuat Prabowo terbilang sulit menerima kritik. Selama ini, Prabowo selalu ada di lingkaran partai sehingga ia tak terbiasa menerima kritikan terbuka. Akibatnya, ketika ia menduduki jabatan sebagai presiden, Prabowo menganggap siapapun yang mengkritik adalah musuhnya.
Pria dengan kecenderungan fragile masculinity yang tinggi merasa harus membuktikan kejantanannya. Risiko akan semakin bertambah apabila hal ini masuk ke dalam dunia politik, terlebih jika ia menjadi pemimpin.
Pria yang merasa maskulinitasnya terancam akan aktif menolak segala perilaku feminin dan mengagung-agungkan stereotip maskulin di berbagai aspek kehidupan. Semisal di aspek sosial, ia akan menunjukkan agresi pada yang tak setuju dengannya, atau di aspek finansial dimana ia akan mengambil risiko tinggi dan tidak rasional, seperti keputusan investasi dan pinjaman berbahaya.
Tak ada tempat yang lebih menarik selain ranah politik sebagai ajang pembuktian si pria ego rapuh ini. Dalam politik, pria dapat menyalurkan maskulinitasnya melalui dukungan terhadap kebijakan, partai, dan kandidat yang memancarkan agresi yang lebih dominan.
Secara langsung, fragile masculinity ini juga berdampak negatif untuk masyarakat. Seorang pemimpin yang memiliki kecenderungan fragile masculinity sering kali berusaha untuk tetap terlihat “jantan” dengan membuat atau memutuskan kebijakan untuk terlihat kuat dibanding dengan kebijakan yang merujuk pada kebutuhan rakyat dan negara secara objektif.
Pria dengan fragile masculinity lebih mendukung kebijakan yang memancarkan agresi, seperti hukuman mati, penyiksaan, hingga intervensi polisi dan militer. Tengoklah kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Prabowo selama ia memimpin. Dalam setahun, 5.538 orang jadi korban kekerasan aparat saat unjuk rasa, militer masuk kampus, hingga pengesahan UU TNI No. 3 Tahun 2025 yang memperluas kewenangan militer hingga ke ranah sipil.
Pada akhirnya, segala agresi verbal dan kebijakan militer yang dipamerkan bukanlah bentuk dari kebijakan yang matang, melainkan semata hanya untuk memamerkan si ego rapuh pemimpin.
Ketika manifestasi perilaku fragile masculinity itu muncul, kebijakan-kebijakan yang dihasilkan pun jauh dari kebijakan yang berpihak pada masyarakat. Diksi kasar seperti “ndasmu” atau ejekan “nyenyenyenye” adalah bukti bahwa selama ini, kritikan masyarakat tak pernah dibaca sebagai evaluasi.
Ditulis oleh Raihana Zulfa Syahidah
Diedit oleh Diandra Wafiyatunnisa
Didesain oleh Tokyo Sora