You Act Different. Does That Make You Fake?

Pernah nggak kamu merasa jadi orang yang sedikit berbeda tergantung tempat dan orang di sekitar kamu? Sama orang tua, kamu mungkin lebih kalem. Bareng sahabat dekat? Bisa berubah jadi manusia paling berisik sedunia. Saat ketemu teman baru, kamu mungkin lebih banyak mengamati dulu.

Jadi, yang mana “kamu” yang sebenarnya?

Here’s the thing: they can all be you.

Menurut William James (1890), kita punya banyak social selves, yaitu sisi diri yang muncul di lingkungan sosial yang berbeda. Jadi, wajar kalau kamu bersikap beda dengan orang tua, teman, atau pasangan. Bukan berarti kamu fake; kamu hanya sedang menyesuaikan diri dengan ekspektasi dan aturan sosial tiap lingkungan.

Dalam psikologi, ada konsep self-monitoring dan impression management. Mark Snyder (1979) melihat kemampuan ini sebagai bentuk regulasi diri yang adaptif. Kita belajar kapan harus serius, kapan bisa bercanda, kapan perlu banyak bicara, dan kapan lebih baik mendengarkan.

Ini bukan selalu tentang “gimana supaya orang suka aku?”
Kadang sesederhana: “Gimana caranya aku bisa berfungsi dengan baik di situasi ini?”

Kemampuan beradaptasi justru bisa membantu kita getting along dengan orang lain sekaligus getting ahead dalam lingkungan sosial.

Bayangin diri kamu seperti isi lemari.

Ada baju untuk kuliah, baju untuk nongkrong, baju untuk acara keluarga, sampai kaos oversized yang cuma dipakai kalau lagi di kamar. Bajunya bisa berubah sesuai situasi, tapi orang yang memakainya tetap sama.

Begitu juga dengan perilaku.

Tapi tentu ada batasnya.

Beradaptasi itu sehat. Tapi bagaimana kalau kamu terlalu sibuk menyesuaikan diri sampai lupa apa yang sebenarnya kamu mau?

Ada perbedaan antara: “Aku menyesuaikan caraku bersikap,” dan “aku harus menjadi orang lain supaya diterima.”

Yang pertama adalah adaptasi. Yang kedua mulai terasa seperti kehilangan kontrol diri sendiri.

Kalau lingkungan bisa dengan mudah menentukan nilai, batasan, bahkan siapa dirimu, lama-lama kamu mungkin bukan lagi sedang menyesuaikan diri, tapi kamu sedang meninggalkan diri sendiri.

SO, WHO IS THE “REAL” YOU?

Maybe the real you isn’t one version.
Maybe it’s the person behind all those versions–the one who knows what they value, what they want, and where their boundaries are.

So, take a moment. Coba ingat-ingat, seperti apa dirimu saat di rumah, bareng teman, di kelas, dan ketika sendirian.

What changes? What stays?
Maybe that’s where you’ll find your answer.

Ditulis oleh Najmaa Permata Renanda

Diedit oleh Diandra Wafiyatunnisa

Didesain oleh Malika Afza Fathiya Rizal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *