Why Does Rejection Activates the Brain’s Pain System?

Coba bayangkan. Lagi sayang-sayangnya, malah dapet chat “kita udahan aja, ya.” Atau baca email tapi isinya “maaf, Anda tidak lolos.” Tiba-tiba dada kalian nyut-nyutan, perut mules, napas jadi berat? Padahal cuma ditolak pakai kata-kata, tapi kok sakitnya kayak abis berantem di tengah jalan?

Ternyata, “sakit hati” itu bukan hanya kiasan, loh! Ada alasan kenapa penolakan itu bisa mengaktifkan alarm di otak kita. 

Setiap orang pasti nggak suka sama yang namanya ditolak. Soalnya, dari dulu manusia itu  akan bergantung pada kelompok sosial untuk bertahan hidup. 

Fun fact-nya, otak kita berevolusi untuk menganggap  penolakan adalah sebuah ancaman. Ketika kita kehilangan ikatan sosial, berarti kita bisa kehilangan akses terhadap perlindungan, sumber daya, dan kerja sama. Makanya, penolakan akan terasa menyakitkan karena otak berpikir  keberlangsungan hidup kita dalam bahaya. 

Kalau kata Nathan DeWall, seorang psikolog dari University of Kentucky,

“manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk merasa diterima. Sama seperti kita membutuhkan makanan dan air, kita juga membutuhkan hubungan yang positif dan langgeng.”

Nah, untuk mempelajari fenomena ini, beberapa ilmuwan membuat sebuah penelitian. Namanya cyberball experiment. Dengan menggunakan fMRI—sebuah teknik pemindai otak—para peneliti menemukan adanya kesamaan respons dari rasa sakit penolakan dengan rasa sakit fisik. Mereka juga menemukan bahwa terdapat tumpang-tindih antara sirkuit saraf sakit fisik dan sakit sosial (ditolak). 

Jadi, ada dua area otak yang jadi bintang di sini. Yang pertama ada korteks cingulate anterior dorsal (dACC), area yang biasanya aktif saat kita lagi ngerasain sakit  fisik. Yang kedua ada insula anterior (AI), area yang mengolah perasaan nggak nyaman secara umum. Nah, dua area ini yang biasanya aktif pas kamu sakit fisik ternyata juga aktif pas kamu ngalamin penolakan sosial. 

Eits, tapi perlu diingat bahwa rasa sakit yang ikut kerasa ini bukan berarti kamu harus takut sama penolakan ya. Kita masih perlu belajar lewat interaksi yang pasti ada suka-dukanya.

Dari penolakan, kita bisa belajar untuk menjadi seseorang yang lebih baik!

Ditulis oleh Nazhwa Tristandila Mirakhi

Diedit oleh Diandra Wafiyatunnisa

Didesain oleh Tokyo Sora

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *