Aku rela hidup untukmu

Sebelum dia datang, perempuan itu hanyalah seseorang dengan kepala yang riuh, yang sering kali bertanya-tanya apakah hidup ini benar-benar memiliki arti.

Apa gunanya dia hidup?

Bangun di pagi hari, merasakan dinginnya air sebelum akhirnya pergi ke kampus untuk kuliah. Menghadiri rapat, bertemu teman-teman sebentar, lalu pulang. Dan esok harinya, semua akan terulang lagi.

Apa gunanya dia hidup?

Apa tujuan dari hidup ini?

Apakah dia akan sampai pada tujuan itu?

Bagaimana jika dia mati sebelum sempat sampai di sana?

Buat apa dia hidup?

Hidup terasa begitu sulit untuk dijalani. Sering kali monoton dan membosankan. Tetapi di waktu lainnya, hidup juga menghadapkan manusia pada begitu banyak hambatan dan ujian.

Lalu, apakah hidup benar-benar pantas untuk dijalani?

Apakah hidup memang seberharga itu untuk terus dipertahankan?

Hadiah apa yang menanti di penghujung perjalanan?

⸻

“Aku rela mati untukmu.”

Mungkin frasa itu terdengar romantis di telinga banyak orang, termasuk dirinya. Namun, pada suatu malam, seseorang membukakan perspektif baru tentang hidup kepadanya.

“Kenapa harus rela mati kalau bisa rela hidup untuk orang lain?”

“Hidup itu lebih sulit untuk dijalani dibanding mati.”

Kalimat itu membuat perempuan itu terdiam. Untuk pertama kalinya, dia benar-benar memikirkannya.

Apakah dia akan pernah bisa mencintai seseorang sedemikian dalam hingga dia rela hidup untuknya?

Dan entah bagaimana caranya, kepala yang selama ini riuh itu perlahan mulai tenang. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini berputar tanpa henti mulai menemukan jedanya. edikit demi sedikit, dunia terlihat lebih jelas.

Dan hidup terasa lebih layak untuk dijalani.

Seketika, hidup yang selama ini terasa monoton menjadi lebih terang dan berwarna.

Seketika, ada alasan untuk menantikan hari esok.

Seketika, keinginannya untuk hidup kembali.

Setelah sekian lama, dia ingin hidup.

Hidup yang selama ini terasa sulit dan gelap tiba-tiba menjadi jauh lebih pantas untuk dijalani ketika dia menjalaninya bersama laki-laki itu.

“Aku rela hidup untuknya.”

Tanpa disadari, kalimat itu telah mengakar di lubuk hatinya yang paling dalam.

Kemudian, dia meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Dia mulai berusaha makan lebih baik, hidup lebih sehat, dan merawat dirinya sendiri.

Dia berusaha untuk hidup.

Bukan sekadar hidup, tetapi hidup yang panjang. 

Hidup yang lama. Hidup yang tenang. Hidup yang sehat.

Untuk pertama kalinya, dia tidak hanya ingin bertahan hidup. Dia ingin memiliki hidup yang layak untuk dijalani.

Dan ketika mereka bersama, dia hidup.

Bukan hanya sekadar menjalani hidup.

Dia benar-benar hidup.

Ditulis oleh Hafisha Mecca Nordiawan

Diedit oleh Diandra Wafiyatunnisa

Didesain oleh Tokyo Sora

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *