Dulu, Ambre tidak paham kenapa opa sering berkata kasar.
“Bangs*t memang. Dikasih hati malah minta jantung.”
“Ayolah, sadar diri sedikit. Memangnya cuma kau yang perlu makan? Dasar b*doh.”
“T*lol! Kurang ajar! Nanti kalau ketemu, akan ku cincang badan—”
Ayolah, bahkan dulu Ambre tak tahu apa itu kata kasar. Yang Ambre tahu hanyalah lagu nina bobo yang bunda nyanyikan.
Dulu, Ambre juga tak paham kenapa ayah sering jumpalitan sambil marah-marah.
“Dasar wasit b*doh! Kenapa tiba-tiba kartu merah?!”
“Yang benar saja! Gawang di depan mata, kau malah tendang ke kiri? T*lol!”
Ambre kecil merengut. Ayolah, ia hanya ingin main dengan ayahnya. Tapi lihat? Ayahnya malah lompat-lompat tak karuan di atas sofa, hanya karena menyaksikan orang berebut bola. Sambil mengumpat pula.
Dulu, Ambre tak paham.
Semakin besar, ia sedikit mulai paham kenapa opa dan ayah mengumpat.
Semakin besar, Ambre sedikit mulai paham kapan opa dan ayah mengumpat.
Opa mengumpat saat menonton berita. Opa mengutuk mereka. Opa ingin mereka berumur pendek. Lalu, opa menulis. Lalu, opa mengumpat di depan mikrofon dan kamera. Dan ditangkap, dijebloskan ke sel tahanan. Opa mengumpat lagi. Keras-keras, berteriak. Kali ini di depan orang yang sering opa tonton di rumah. Bilang kalau dia bebal, hanya mementingkan dia dan keluarganya. Lalu opa mati—
Surat kematian itu sampai tepat Senin kemarin.
Dan rumah kami ikut mati. Senyap. Tak ada umpatan lagi yang terdengar. Hanya ada bisikan pilu yang terkadang menggema kuat di malam.
Langit cerah sebenarnya, kala Senin itu. Mungkin ia tak mendukung opa disemayamkan terlalu cepat. Atau mungkin, hujan dan petir sudah dikirim untuk mereka? Biar kebanjiran.
Ambre lupa. Mereka mana pernah kebanjiran. Enak tinggal di istana negara. Yang hanya kebanjiran, kan, rakyat jelata saja. Mereka yang bahkan mudah sekali kalian habisi nyawanya.
Dulu, Ambre senang jika dapat nilai 100. Dapat uang 100. Bukan 100 ribu sih, tapi 100 perak karena habis ketok-ketok punggung ayah. Dulu, Ambre juga senang, jika hari ke-100 ulang tahun pernikahan ayah dan bunda. Dapat kue, soalnya.
Dulu.
Tepat hari Senin itu, hari ke-100 opa di lapas. Tepat hari ke-100 pula, berita di layar semakin menggila.
Bagi kami, hidup itu sederhana. Bagaimana caranya bertahan hidup dari uang yang tak seberapa. Mengusahakan kerja dari tubuh meski meronta ingin patah. Sementara kalian ongkang-ongkang kaki tertawa melongok melihat usaha kami.
Hingga ada satu nyawa melayang karena ulah kalian.
Rasanya, Ambre juga ingin mengumpat seperti opa. Mengumpat di dunia, mengumpat di jalan, lalu mengumpat di liang lahat.
Ditulis oleh Raihana Zulfa Syahidah
Diedit oleh Diandra Wafiyatunnisa
Didesain oleh Naraya Raissa Aqila