Album you seem pretty sad for a girl so in love dari Olivia Rodrigo banyak membicarakan hubungan, perasaan, dan bagaimana seseorang dapat berubah ketika hidupnya mulai terikat dengan orang lain. Salah satu lagu di dalamnya, “purple”, memiliki satu baris yang cukup menarik untuk dibahas lebih jauh: “I had big dreams till I tied myself to you.”
Jika dilihat dari konteks lagunya, “you” memang dapat dipahami sebagai seseorang. Namun, bukankah sesuatu yang membuat kita merasa terikat tidak harus selalu berwujud manusia?
Sejak kecil, kita terbiasa memiliki gambaran mengenai kehidupan yang ingin dijalani. Ada yang sudah tahu ingin menjadi apa, ingin kuliah di mana, ingin bekerja sebagai apa, atau sekadar ingin memiliki kehidupan seperti apa ketika dewasa nanti. Tidak semua gambaran tersebut menjadi rencana pasti, tetapi setidaknya pernah ada bayangan mengenai masa depan yang ingin dimiliki.
Sayangnya, kehidupan tidak sesederhana itu. Banyak hal yang akhirnya membuat seseorang harus berhenti dari jalan yang sudah direncanakan. Pilihan yang berubah, keadaan keluarga, kondisi ekonomi, tanggung jawab, kegagalan, kesempatan yang datang di waktu yang tidak tepat, bahkan keputusan yang dibuat dengan harapan terbaik sekalipun dapat membawa seseorang ke tempat yang sama sekali berbeda.
Hal ini sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sebagai mahasiswa. Ada orang-orang yang sejak lama bermimpi tentang jurusan maupun universitas impiannya bahkan mungkin sudah membayangkan seperti apa kehidupannya nanti. Namun, ketika hasil akhirnya tidak sesuai harapan, pilihan yang tersisa terkadang bukan lagi tentang apa yang paling diinginkan, melainkan apa yang masih bisa dijalani.
Menerima keadaan sering kali terdengar seperti sesuatu yang sederhana. Tinggal berdamai, berhenti mempertanyakan, lalu melanjutkan hidup. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Seseorang bisa tetap menjalani kehidupannya dengan baik sambil sesekali bertanya-tanya tentang jalan lain yang mungkin terjadi.
Mungkin karena itu, “you” dalam lirik tersebut tidak selalu berarti seseorang. “You” bisa berupa keadaan yang tidak pernah dipilih, keputusan yang sudah terlanjur dibuat, tanggung jawab yang harus dijalani, tempat yang akhirnya menjadi rumah, atau bahkan takdir yang membawa seseorang ke kehidupan yang tidak pernah ada dalam rencana.
Yang membuatnya sulit bukan hanya karena harus menjalani sesuatu yang berbeda. Ada pula gambaran tentang diri sendiri yang harus perlahan dilepaskan. Versi diri yang dulu begitu yakin akan menggapai mimpinya di tempat tertentu, bekerja di bidang tertentu, atau memiliki kehidupan tertentu. Ketika semua itu tidak terjadi, yang harus diterima bukan hanya perubahan keadaan, tetapi juga kenyataan bahwa versi masa depan yang pernah dibayangkan mungkin tidak akan pernah ditemui.
Namun, hidup tidak selalu meminta seseorang untuk menjadi orang yang sama dengan yang pernah dibayangkan. Mimpi dapat berubah, prioritas dapat bergeser, dan tujuan dapat menemukan bentuk baru. Hal tersebut tidak selalu berarti kehilangan arah. Bisa jadi, seseorang hanya sedang belajar bahwa kehidupan tidak memiliki satu versi yang benar.
Pada akhirnya, “I had big dreams till I tied myself to you” bukan hanya tentang bagaimana seseorang kehilangan mimpi karena terikat pada orang lain. Kalimat tersebut juga dapat berbicara tentang bagaimana hidup terkadang mengikat seseorang pada sesuatu yang tidak pernah direncanakan. Dan ketika itu terjadi, pilihannya tidak selalu antara memperjuangkan mimpi lama atau menyerah sepenuhnya. Karena tidak mendapatkan kehidupan yang pernah dibayangkan bukan berarti mendapatkan kehidupan yang salah.
Ditulis oleh Naura Filzah Hanani
Diedit oleh Diandra Wafiyatunnisa
Didesain oleh Indri Safitri