Banyak sekali diskursus mengenai karakter Nikki dari film Obsession (2025) yang dicap “cegil” oleh sebagian penonton. Perilaku Nikki yang dianggap ekstrem dan bikin nggak tenang, membuat penonton ikut merasakan kengerian yang dialami Bear.
Dari sini juga, banyak yang beranggapan kalau Bear adalah korban sebenarnya, alias dia nggak nyangka kalau permintaannya akan terkabul dan bikin semuanya jadi kacau.
Kenapa Nikki Dibilang Cegil?
“I hope Nikki Freeman love me more than anyone else in the fucking world,” ucap Bear dengan menggunakan One Wish Willow—benda yang bisa mengabulkan permintaan.
Benda ini yang bikin Nikki jadi tergila-gila sama Bear. Dengan ekspektasi Nikki akan mencintainya seperti di film-film romance, justru menjadi teror ekstrem yang menghantui hari-harinya. Mulai dari nangis di pojok kamar, ngelakban pintu, hingga memasak kucing Bear yang sudah mati.
Kegilaan ini lah yang akhirnya membuat sebagian penonton melabeli Nikki dengan sebutan “cegil”—yang serta merta memvalidasi panggilan “Freaky Nikki” dalam film tersebut.
Alih-alih melihat Nikki sebagai korban, dia diposisikan sebagai pelaku yang patut disalahkan.
Namun, tidak sedikit penonton yang membantah sebutan itu karena menganggap Bearlah yang mengambil jalan pintas dan merenggut otonomi Nikki atas dirinya sendiri.
Memang benar, Bear tidak pernah mengira bahwa permintaannya akan terkabul dari seonggok mainan ranting. Dia hanya ingin dicintai. Tetapi, hal ini tidak menghapus fakta bahwa dialah yang memicu semuanya.
Relasi Kuasa Antara Nikki dan Bear
Relasi kuasa adalah hubungan yang menimbulkan kekuasaan pada satu pihak terhadap pihak lainnya.
Dalam film ini, Bear jelas merampas dan membuat Nikki kehilangan kontrol untuk menentukan tindakan dan perasaannya sendiri.
Nikki tidak mencintai Bear, dia hanya menganggap Bear hanyalah sahabat yang sudah seperti saudara laki-lakinya sendiri. Namun, karena keegoisan Bear, Nikki kehilangan semua kendalinya. Terlihat berkali-kali bahwa Nikki “tersadar” dan berusaha mengambil alih kembali tubuhnya.
Bahkan, Nikki meminta Bear membunuhnya karena sudah merasa tak sanggup dengan semuanya.
Nikki terjebak entah di mana.
“Just kill Me. I’ve never been with you, Bear.”
“What’s so bad about being with Me?”
Bear mengetahui situasinya. Bukan permintaan maaf, hanya mencari alasan. Bear tahu Nikki menderita di dalam tubuhnya sendiri. Padahal, Bear mendapat kesempatan untuk membatalkan permintaannya saat berbicara dengan si customer service dan melalui One Wish Willow yang digunakan orang lain untuk membatalkan permintaannya.
“I don’t want to cancel, I want to alter the wish.”
Bukannya memanfaatkan kesempatan tersebut, Bear justru tetap melanjutkan “kejahatannya” dengan mengganti permintaannya menjadi lebih sederhana.
Secara sadar, Bear menciptakan kondisi di mana Nikki tidak punya pilihan selain “mencintai” dirinya.
Ideal Victim dan Pergeseran Simpati
Nils Christie—seorang sosiolog, mengkaji bagaimana korban tertentu dipandang layak mendapatkan empati dan dukungan dalam wacana publik melalui esainya “The Ideal Victim” (1985). Christie merumuskan skema seseorang yang dapat dianggap sebagai ideal victim; posisi yang lemah, keterlibatan dalam aktivitas mulia, berada di tempat yang tidak bisa disalahkan. Sedangkan, si pelaku adalah orang yang jahat dan tidak dikenal oleh korban.
Bear digambarkan sebagai karakter yang pemalu dan gak berdaya untuk menghadapi teror dari Nikki. Dia juga memiliki niat yang polos (ingin dicintai), bukan melukai.
Sementara itu, otomatis Nikki akan terlihat menjadi pihak offender yang mengancam dan mendominasi. Efek dari permintaan Bear membuat Nikki menjadi orang asing yang sangat berbeda meskipun sebelumnya mereka saling mengenal.
Di titik inilah pergeseran simpati terjadi. Penonton cenderung berada dalam posisi membela yang “lemah” dan “tertindas”.
Jika dipahami lebih dalam, Nikki adalah korban sebenarnya. Sosok yang kehilangan jiwa dan kendali atas dirinya sendiri. Bahkan, setelah semuanya berakhir, dia kehilangan teman-temannya yang meninggal karena perbuatan “Nikki”.
Jelas itu semua bukan kemauannya. Tetapi, karena Nikki menjadi sosok yang kuat, berbahaya, agresif, dan gak wajar secara sosial, penderitaan Nikki nggak masuk dalam skema ideal victim. Penonton jadi nggak melihat dia sebagai korban, meskipun dialah pihak yang pilihan dan persetujuannya direnggut lebih dulu.
Pada akhirnya, aktor yang memerankan karakter Bear, Michael Johnston. Mengklaim bahwa memang Bearlah villain-nya.
“Bear is the villain.”
“Maybe he didn’t know the willow would work. But the choices he made after that, he clearly showed that he just incapable of thinking about anyone other than himself.” ucapnya dalam podcast The Brandon Davis Show.
Jadi, siapa yang terobsesi pada siapa?
Ditulis oleh Nazhwa Tristandila Mirakhi
Diedit oleh Diandra Wafiyatunnisa
Didesain oleh Laya Nasywa Az Zahra