Ada lembayung senja yang selalu menemaninya di penghujung hari hanya untuk menyambut kekasih hati. Katanya, agar sang kekasih hati tak pernah merasa lelah. Cahaya jingga senantiasa menyinari sosok yang tengah duduk manis, dengan paras indahnya yang membuat bunga-bunga di taman merasa iri. Seolah, ia adalah Anak Kesayangan Semesta.
Cantik sekali.
Anak Kesayangan Semesta tak pernah absen duduk manis di taman yang telah menjadi saksi bisu romansa pahit manis dirinya dengan sang kekasih. Rasanya masih sama. Sama seperti saat dirinya pertama kali berkenalan. Ada riuh yang tak bisa ia ungkapkan. Semua perasaannya menyatu hingga tak tahu malu. Sampai-sampai Anak Kesayangan Semesta lupa bahwa kisah mereka telah berakhir dua putaran musim lalu.
Dua tahun lalu, hembusan angin sore menerpa helaian rambut Si Cantik yang kian lembap karena peluhnya. Anak kesayangan semesta tak tampak seperti biasanya. Hilang entah kemana senyum manis Si Cantik yang selalu menunggu sang kekasih hati? Kemana perginya binar mata Si Cantik yang selalu tak sabar menunggu sang kekasih hati?
Siapa yang berani membuat Anak Kesayangan Semesta itu kehilangan senyumnya?
Cahaya jingga menyinari wajah Anak Kesayangan Semesta yang tengah ditekuk, ternyata firasatnya hari ini terasa buruk.
Apakah kekasih hatinya hari ini akan pulang bersama wajah bahagia yang Tuhan ciptakan dengan senyum terpatri? Apakah kekasih hatinya hari ini akan pulang dengan wajah yang ditekuk hingga bibirnya ikut mengerucut? Apakah kekasih hatinya hari ini akan pulang dengan seribu satu celotehan yang membuatnya tak berhenti tertawa? Apakah kekasih hatinya hari ini akan pulang ke pelukannya?
Apakah kekasih hatinya hari ini akan pulang?
Lembayung senja yang senantiasa menemaninya duduk manis, perlahan berubah menjadi langit gelap yang penuh dengan cahaya bintang. Anak Kesayangan Semesta tetap duduk manis dengan tenang, walaupun sang kekasih hati tak kunjung pulang.
Dijepitnya sebatang sigaret diantara kedua jari Si Cantik. Disesapnya kuat-kuat hingga asap itu dikeluarkan bersamaan hembusan nafasnya yang terasa sangat berat. Anak Kesayangan Semesta tampak kelelahan menunggu setelah tiga jam berlalu.
“Maaf,” suara itu menyapa gendang telinga Si Cantik, hingga ia mendongakkan kepalanya.
Kekasih hatinya pulang. Figurnya masih sama, namun tak ada senyum manis yang diberikan. Tak ada celotehan yang membuatnya tertawa, bahkan tak ada pelukan hangat. Yang ada hanyalah senyum canggung di bibir sang kekasih hati.
“Kenapa…?” Pertanyaan itu keluar dari mulutnya dengan ragu, sebab sang kekasih hati tampak berbeda dari biasanya.
Paras sang kekasih hati yang tak kalah Indahnya dari cahaya bintang di malam hari menyiratkan kesedihan. Ada apa sebenarnya? Apa firasatnya benar?
Mungkin Tuhan sengaja memberikannya waktu dua menit tuk mempertahankan benteng yang ia rakit, sebelum Anak Kesayangan Semesta mendapatkan jawaban yang meluluh lantakkan hidupnya.
“Aku rasa hubungan kita harus berhenti.”
“Maksudmu?” Pura-pura tidak mengerti adalah satu-satunya cara Anak Kesayangan Semesta mempertahankan dirinya agar tidak jatuh saat itu juga.
“Dunia kita punya norma, Sayang.”
Oh.
Dunianya hancur lebur hingga perasaannya harus ia kubur.
“Maaf kepulanganku selalu membuatmu menunggu.”
Anak Kesayangan Semesta tertawa miris. Untuk apa dirinya duduk manis di taman yang selalu menjadi tempat singgah paling bahagia, jika pada akhirnya rasa itu habis tak tersisa.
Secara mutlak, dua tahun yang lalu keduanya kalah telak. Dua tahun yang lalu keduanya memutuskan untuk menyerah. Dua tahun yang lalu keduanya memutuskan untuk berpisah. Dua tahun yang lalu keduanya memutuskan untuk saling mengalah. Sebab realita terlalu keras jika mereka tetap bersikeras.
Akhirnya, semua selesai.
Meskipun, kisah ini ditutup dengan sang kekasih hati yang meminta hubungan mereka dianggap tak pernah mulai.
Anak Kesayangan Semesta yang kala itu masih belajar dengan cintanya, dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya oleh realita dunia yang menyakitan.
Salahkah jika dirinya selalu menunggu sang kekasih hati pulang ke pelukannya?
Penulis: Faiqa Izzihni Ramadhani
Editor: Diandra Wafiyatunnisa
Desainer: Laya Nasywa