Adakah Yang Menangisi Kematianku Nanti?

TRIGGER WARNING: Cerita ini memuat tema sensitif yang mungkin memicu ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca.

Adakah yang menangisi kematianku nanti?

Di setiap dongeng yang dituturkan oleh orang tua kita, tokoh dengan kepribadian baik selalu mendapat akhir yang baik. Sementara yang jahat, akan disingkirkan dari cerita entah bagaimana caranya. Yang jahat selalu dijadikan pembelajaran, sementara yang baik dijadikan panutan.

Orang-orang memang begitu. Mereka menyukai cerita yang jelas siapa-siapanya. Siapa yang hidupnya harus dipuja, siapa yang hidupnya harus dihina.

Bersih dan kotor. Baik dan jahat. Jujur dan bohong. Menang dan kalah. Putih dan hitam.

Padahal, pada dasarnya tidak ada orang yang benar-benar dapat dikotak-kotakkan seperti itu.

Apakah manusia terlalu takut untuk melihat seseorang yang tidak nyata dan menyerupai diri mereka, sehingga tokoh seperti kami tidak pernah diceritakan secara jelas dalam dongeng buatannya?

Memori terakhir dengan Ayah kandungku adalah saat usiaku belum genap enam tahun. Waktu itu aku ingat, warna kulit di bawah matanya berubah menjadi biru keunguan. Aku sering melihat hal seperti itu di tubuh Ibu. Tapi, ini kali pertama aku melihat Ayah seperti itu. Apakah ia juga terjatuh seperti Ibu?

Ayah tersenyum dan mencium keningku, tepat sebelum membuka pintu. 

“Suatu saat nanti, jadilah perempuan yang dikenang banyak orang.”

Kemudian, ia pergi. Meninggalkan Ibu yang meraung-raung marah, dan aku yang berharap dibawakan kue cokelat saat kembali ke rumah.

Sehari setelah Ayah pergi, Ibu mengurung dirinya di kamar seharian. Seminggu setelah Ayah pergi, Ibu mulai berhenti bernyanyi di dapur. Dua minggu setelah Ayah pergi, Ibu mulai berhenti menanyakan cerita apa yang ingin aku dengar malam ini. Tiga minggu setelah Ayah pergi, Ibu sudah tidak pernah memelukku lagi. Satu bulan setelah Ayah pergi, Ibu dan aku seperti dua orang asing yang terjebak di dalam satu rumah untuk waktu yang lama.

Tidak ada lagi dongeng sebelum tidur untukku. Tidak ada lagi pelukan pagi hari untukku. Tidak ada lagi roti keju untukku.

Dari situ, aku baru menyadari kalau kue cokelat yang aku inginkan tidak akan pernah aku dapatkan. Ayah tidak akan pernah membelikan kue cokelat untukku lagi. Ayah tidak akan pernah menggendongku di atas pundaknya lagi. Ayah tidak akan pernah membiarkanku tidur di sampingnya lagi.

Dengan kata lain, ia tak akan pernah kembali.

Sejak saat itu, aku selalu mencoba menjadi anak baik untuk Ibu. Aku percaya, menjadi anak baik adalah satu-satunya cara agar Ibu tidak melakukan apa yang Ayah lakukan.

Aku selalu membantu Ibu melakukan pekerjaan rumah. Aku mencuci alat makan yang sering Ibu banting. Aku menyapu lantai tempat Ibu berubah menjadi orang kesetanan. Aku pergi ke pasar, belajar tawar-menawar hanya untuk dicurigai dari mana aku mencuri uangnya. Aku memasak makanan untuk kami berdua, meski aku tidak pernah melihat Ibu memakannya.

Aku juga belajar memahami suasana hati Ibu. Aku belajar menyesuaikan diri agar Ibu tidak semakin murung. Aku belajar menyesuaikan diri agar Ibu berhenti meraung-raung dan membenturkan badannya ketika teringat Ayah. Walaupun pada akhirnya ia akan memukulku dan berteriak kalau aku bertingkah seperti ayahku. Dan aku memahaminya.

Aku tahu, di balik kemarahan itu ada seorang perempuan rapuh yang memelihara lukanya, dengan harapan yang terus menuntut ia tumbuh dengan kesempurnaan. Jadi, aku selalu memutuskan untuk menghiraukannya.

Setiap malam, aku selalu berdoa kepada Tuhan—jika Ia mendengarku—semoga semua ini hanya mimpi. Jika aku merasa doa itu mustahil, maka aku mengubah doaku. Semoga Ayah belum kembali karena ia lupa jalan pulang saat mencari kue cokelat. Jika itu masih terasa mustahil, aku kembali mengubahnya. Semoga Ibu tiba-tiba memelukku dan mengajakku membuat roti keju bersamanya. Jika dirasa masih mustahil, aku akan memejamkan mataku dan berdoa semoga hari esok aku tidak terbangun sama sekali.

Tentu saja aku masih bangun.

Masa kecilku sebagian besar aku habiskan sendirian. Tidak ada anak-anak yang mau mengajakku bermain. Kadang, aku yang mengajak mereka bermain. Kadang, aku akan berkata “boleh aku ikut bermain?” Tapi, tidak ada yang mengiyakannya. Biasanya mereka tidak mengacuhkanku. Atau, mereka akan membalasnya dengan cemoohan tentang kepergian Ayah dan status baru Ibu.

Akhirnya, aku berhenti mendekati mereka dan memutuskan untuk bermain dengan boneka-boneka yang sama diamnya dengan mereka. Setidaknya sampai usiaku tiga belas tahun.

Suatu hari, Ibu pulang ke rumah membawa seorang lelaki berusia setengah abad dengan anak gadisnya yang berkulit pucat. Dalam hitungan hari, mereka resmi menjadi penghuni baru rumah kami.

Diam-diam, aku senang bukan main. Diam-diam, aku berharap ayah baruku akan membelikanku kue cokelat. Diam-diam, aku berharap gadis ini akan menjadi sahabat pertamaku. Diam-diam, aku berharap Ibu akan kembali memelukku setiap pagi.

Aku salah.

Tidak ada satu pun harapanku yang terjadi.

Ayah baruku hanya membanggakan anak gadisnya. Begitu pun Ibu, yang terlihat lebih senang dengan kehadiran gadis kikuk nan pintar itu. Setidaknya di hadapan mereka berdua.

Di balik pintu kamar, Ibu akan menyuruhku untuk memiliki atau membuat sesuatu yang bisa ia banggakan lebih dari gadis yang selanjutnya aku panggil “Adik.”

Hal itu tidak berlangsung lama karena Ibu kembali menyandang status lamanya sebagai perempuan yang ditinggal suami. Aku yang pertama kali menemukan ayah baruku. Mulut dan badannya masih bau tembakau. Aku pikir ia tertidur. Ketika adik dan Ibu histeris, aku menyadari kalau tidak ada orang hidup yang tidur setenang itu.

Orang-orang berduka. Aku kembali melihat Ibu meraung-raung (itu tidak akan lama). Aku melihat adikku tergeletak di lantai dengan air mata yang bercucuran deras dari matanya. Aku melihat tetangga-tetangga yang tidak pernah sama sekali melirik kami, datang untuk sekadar mengucap turut berduka dan meminta mereka berdua untuk sabar lagi tabah.

Kenapa pula orang-orang itu meminta dua orang yang sedang berduka untuk sabar dan tabah?

Aku diam di kamar sampai semua orang, termasuk ayah baruku, pergi. Aku tidak mau terlihat tidak sedih di keadaan duka seperti ini. Walau, memang ada benarnya.

Saat Ibu dan Adik kembali, mataku beradu pandang dengan tatapan kosong Ibu. Mulai saat itu, aku tahu. Sebentar lagi rumah ini akan menjadi opera sabun, di mana peranku sebagai perempuan jahat pembenci tokoh utama. Atau, sebagai anak dari perempuan jahat pembenci tokoh utama.

Tunggu. Rasanya, kalimat terakhir kurang tepat.

Ibu tidak pernah membenci kami, terutama Adik. Beberapa kali, aku memergoki Ibu sedang menyelimuti Adik yang tertidur di kursi rotan depan rumah. Pernah juga, sekali, aku memergoki Ibu mengelus kepalaku saat aku setengah sadar dalam tidurku.

Jadi, akulah yang akan menjadi sosok pembenci pemeran utama.

Aku sering bersuara tinggi kepada Adik, menyuruhnya berbenah, menyuruhnya melakukan ini dan itu. Dari luar, aku yakin aku tampak bengis. Aku yakin, aku bagai seseorang yang hendak menyingkirkan ketentraman dalam hidupnya. 

Aku mendengar orang-orang di kampung berbisik, “Anak itu memang jahat pada adik tirinya.” Mereka hanya mendengar bentakan, bukan bisik lirihku saat menutup jendela kamar Adik agar ia tak kedinginan. Mereka hanya melihat tanganku yang menunjuk-nunjuk, bukan tanganku yang diam-diam menyisihkan lauk lebih banyak pada piring Adik.

Mereka (masyarakat) memang begitu. Mereka selalu memilih cerita yang mereka sukai. Dan di dalam cerita itu, lagi-lagi, menempatkanku sebagai tokoh jahat yang harus disisihkan di akhir cerita bahagia.

Kemudian, seorang lelaki datang. Bibirnya manis bagai minuman tebu. Aku, yang sudah lama tak merasakan hangatnya kasih, meneguk manis seperti orang yang kehausan. Kukira itulah cinta. Nyatanya, ia hanya sedang bermain-main. Permainan itu berakhir dengan sebuah sayembara konyol, seakan-akan perempuan adalah barang yang harus dinilai kelayakannya untuk seorang laki-laki. Aku menolak ikut serta. Mentang-mentang ia berkuasa, jadi seenaknya membuat sayembara. Memangnya, sejak kapan perempuan harus menundukkan hati demi permainan lelaki?

Namun, perasaan yang jauh terletak di dalam lubuk hatiku tidak dapat membohongi sorot mata. Tenggorokanku rasanya terbakar saat aku mengetahui Adiklah yang memenangkan perlombaan bodoh itu. Hatiku melebur menjadi luka yang kuterima tanpa perlawanan.

Adik pergi menuju kehidupan impian, sementara aku kembali pada kenyataan. Adik hidup di rumah baru, sementara aku kembali hidup berdua bersama Ibu. 

Aku merasa ada yang janggal. Kali ini, aku tidak menganggap Ibu sebagai tokoh jahat dalam hidupku. Aku mulai melihat Ibu dengan cara yang berbeda. Malam-malam yang hening bagai menghadirkan pengakuan samar.

Dari pengakuan itu, aku tahu Ibu mewariskan luka yang lebih tua dari usianya. Jika ada yang melihat telapak tangannya, mereka akan melihat luka yang bahkan ia sembunyikan dari dirinya sendiri.

Tidak lama setelah itu, Ibu pergi menyusul suami keduanya. Rumah menjadi lebih sunyi. Kepergiannya meninggalkan ruang hampa yang tak bisa kututup. Jujur saja, meskipun akhirnya aku merasa bisa bernapas lebih lega, untuk pertama kali dalam hidupku, aku menangisi kepergian seseorang.

Belum selesai aku menyelesaikan duka, gelap datang menghampiri. Segerombolan hewan liar kelaparan tiba-tiba menyeretku ke sudut yang tak ingin lagi kuingat. Tubuhku diperlakukan seakan-akan aku bukan manusia, melainkan kertas yang bisa dirobek dan disapu ke bawah karpet. Aku pulang dalam diam, dengan kaki lunglai yang mencoba membawa raga pergi sambil terseok-seok menuntun jiwa.

Aku tidak bisa diam saja. Aku mencoba bersuara. Aku mengadu kepada siapa saja yang aku percaya. Tetapi, siapa yang mau percaya padaku? Justru, dengan aduan itu kini aku menambah nama panggilan baru. Perempuan jalang, perusak kebahagiaan, dan panggilan lain yang makin lama makin menggores luka. Luka itu menancap lebih dalam, seakan mencoba berbaur dengan luka yang lebih dulu menjadi penghuni.

Hari-hari sesudahnya, aku memutuskan untuk berubah. Suaraku menjadi tajam, tatapanku menjadi dingin dan menyebalkan, kelembutanku aku kubur jauh ke dalam dasar diri. Orang-orang menyebutku kasar, biadab, tak tahu sopan santun. Persetan! 

Mereka tak tahu kalau begitulah caraku agar aku tidak kembali berlutut pada tanah. Lagi pula, itu kan yang mereka mau? Bukannya, memang begitu gambaran diriku saat telinga mereka menangkap namaku?

Namun, dunia tak berhenti menunjukkan ketidakberpihakannya padaku. Saat aku sudah dianggap gila, rusak, dan tak berharga, sekali lagi tubuhku diperlakukan sebagai barang tanpa suara. Kali ini, aku tidak bisa lepas dari tali tak kasat mata yang mengikat sendi-sendiku bak boneka kayu.

Hingga di suatu malam bulan purnama, aku berdiri di tepian danau. Kepalaku menunduk, menatap bayangan wajahku yang terpantul di permukaan tenang. Aku bertanya kepadanya, “Jika aku mati, adakah yang menangisi kematianku?”

Ia tidak bergeming.

Tanpa berpikir panjang, kakiku tergelincir. Ia sengaja membuat tubuhku bertabrakan dengan permukaan air. Kemudian, aku bertanya sekali lagi kepada air yang dinginnya menusuk tulang rusukku. “Siapa yang akan menangisi kematianku?”

Ia diam. Lalu mendekapku perlahan, hingga punggungku bertemu dengan pasir dan bebatuan.

Beberapa hari kemudian, kurang dari sepuluh orang menemukan jasad seorang perempuan muda. Tubuhnya sudah membiru. Wajahnya pucat pasi. Pakaian yang dikenakannya pun sudah compang-camping.

Mereka semua berdiri mengelilinginya. Mereka semua mengenalinya.

“Perempuan seperti dirinya memang pantas mendapatkan akhir seperti ini.”

Tidak ada yang terkejut. Tidak ada yang mengasihani, apalagi memanjatkan doa untuknya.

Tanpa berpikir panjang, dikembalikannya tubuh lesu itu ke dalam air. Bebatuan berat diikat melingkari kaki dan pergelangan tangan, menahannya agar tak muncul lagi ke permukaan. Untuk kedua, dan terakhir kalinya, air kembali menyambutnya. Seharusnya air memang tidak usah memberikannya kesempatan muncul ke permukaan.

Ketakutan terbesarnya benar-benar terjadi. Wasiat ayahnya bertahun-tahun lalu benar-benar terwujud. Jadilah perempuan yang dikenang banyak orang. Sialan, ia mengumpat kepada kalimat melayang itu. 

Kini, segala penjuru mengenangnya. Kini, semua orang tua akan menjadikannya sebagai peringatan untuk anak-anak mereka. Kini, ketika namanya terucap orang-orang akan menyebutnya sebagai pelajaran dari keburukan. Seperti ada yang mau mengingat dan mempelajarinya saja.

Tidak. Tidak ada yang menangisi kematianku.

Penulis: Diandra Wafiyatunnisa
Editor: Maulida Hasna Haniifa
Desainer: Kendra Luvena Cintanayla

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *